Frekuensi
Frekuensi secara umum dapat diartikan
sebagai jumlah kemunculan suatu kejadian yang berulang pada suatu jangka
waktu tertentu. Frekuensi didefinisikan sebagai jumlah periode gelombang yang terjadi selama 1 detik.
Mengacu pada SI, satuan frekuensi adalah Hertz yaitu jumlah siklus per
detik. Nama ini diberikan sebagai penghargaan kepada Heinrich R. Hertz
atas kontribusinya pada bidang gelombang elektromagnetik.
Pada sistem tenaga listrik, istilah
frekuensi diasoasikan dengan frekuensi tegangan dan arus listrik.
Frekuensi ini diperoleh dari kombinasi jumlah putaran dan jumlah kutub
listrik pada generator di pembangkit listrik. Pada awal sejarah
munculnya listrik, pemahaman terhadap frekuensi tidak seperti yang
sekarang ini kita semua pahami. Pada masa itu frekuensi lebih dipahami
sebagai banyaknya jumlah perubahan polaritas (alternasi) per menit,
akibatnya pada masa tersebut banyak kita temui frekuensi sistem tenaga
yang apabila kita ubah ke definisi frekuensi modern akan menghasilkan
angka yang tidak lazim, seperti 83 Hz atau 133 Hz.
Perkembangan Frekuensi pada Sistem Tenaga Listrik
Kita kembali ke sekitar tahun 1890an
dimana listrik masih baru mulai berkembang. Pada masa itu listrik masih
bersifat lokal, tidak ada transmisi jarak jauh, tidak ada interkoneksi,
dan beban utama adalah penerangan. Akibatnya adalah muncul
bermacam-macam frekuensi listrik yang beroperasi tergantung pada
perusahaan penyedia generator pada pusat pembangkit lokal.
Di Amerika Utara, Westinghouse memilih
mengoperasikan generator buatannya pada 133 Hz, sementara
Thompson-Houston (sebelum nanti namanya berubah menjadi General
Electric) menggunakan generator yang beroperasi menghasilkan 125 Hz. Di
Britania Raya, frekuensi sistem bervariasi mulai dari 83 Hz hingga 133
Hz. Frekuensi yang beroperasi di eropa daratan juga bervariasi mulai
dari 30 Hz hingga 70 Hz. AEG dari Jerman menggunakan frekuensi 40 Hz
untuk mentransmisikan listrik sejauh 175 km ke Frankfurt, MFO dari Swiss
menggunakan frekuensi 50 Hz untuk mentransmisikan listrik ke pabriknya,
sementara Ganz dari Hungaria menggunakan 42 Hz untuk melayani konsumen
beban penerangannya.
Begitu banyaknya frekuensi yang muncul
menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing, disamping juga
mengakibatkan kebingungan tersendiri. Beberapa hal yang menjadi
pertimbangan untuk mendapatkan frekuensi yang paling tepat, sesuai
dengan teknologi dan karakteristik sistem tenaga listrik jaman tersebut,
diantaranya:
1. Frekuensi yang tinggi dengan pertimbangan transformator
Semakin tinggi frekuensi operasi maka
ukuran transformator akan semakin kecil. Keuntungan menggunakan
frekuensi yang lebih tinggi adalah biaya produksi transformator akan
bisa menjadi lebih murah.
2. Frekuensi yang rendah dengan pertimbangan turbin-generator
Generator-generator pada masa tersebut
umumnya diputar dengan menggunakan sabuk yang terhubung ke turbin,
seperti pada generator Westinghouse yang menghasilkan frekuensi 133 Hz.
Perkembangan selanjutnya adalah menghubungkan langsung turbin dengan
generator pada 1 sumbu, namun dengan teknologi pada masa itu hanya bisa
apabila putaran generator-turbin cukup rendah, artinya frekuensi listrik
yang dihasilkan juga rendah.
3. Frekuensi dengan pertimbangan lampu penerangan
Beban utama yang dilayani sistem tenaga
listrik pada saat itu adalah beban penerangan. Beban penerangan menuntut
frekuensi sistem yang tidak rendah, karena akan mengakibatkan lampu
yang berkedip-kedip. Frekuensi sistem harus tinggi supaya kedip pada
lampu tidak lagi terasa oleh mata manusia.
4. Perkembangan teknologi motor listrik
Motor induksi mulai berkembang pada masa
tersebut. Belum adanya teknologi pengaturan kecepatan motor mengkibatkan
motor akan berputar proporsional dengan frekuensi sistem tenaga listrik
yang ada. Produsen motor listrik pada umumnya adalah perusahaan yang
juga membuat generator sehingga cenderung untuk memproduksi motor
listrik yang sesuai dengan spesifikasi frekuensi generator yang
diproduksinya sendiri, misalnya MFO dari Swiss dengan sistem 50 Hz.
Apabila kita ingin menggunakan motor listrik tersebut, tentu saja kita
harus menyediakan sistem tenaga yang sesuai dengan spesifikasi frekuensi
motor tersebut.
Kompromi menjadi jalan tengah untuk
mendapatkan frekuensi terbaik dari sekian banyak persyaratan yang saling
berlawanan tersebut. Angka kompromi yang muncul pada masa itu adalah
frekuensi pada kisaran 50 – 60 Hz. Angka tersebut cukup rendah untuk
teknologi pembangkitan, cukup tinggi untuk mendapatkan transformator
yang sesuai, dan cukup tinggi supaya kedip pada lampu penerangan tidak
terasa.
Tidak cukup jelas alasan mengapa pada
akhirnya sistem tenaga listrik Eropa berkembang dengan menggunakan 50
Hz, sedangkan sistem tenaga listrik di Amerika Utara berkembang dengan
menggunakan 60 Hz. Kembali pada faktor produsen generator pada masa
tersebut, selain itu sudah dimulainya interkoneksi antar daerah yang
bertetangga. Apabila suatu daerah ingin digabungkan melalui
interkoneksi, frekuensi yang dipilih harus sama dengan frekuensi yang
sudah ada sebelumnya yaitu 50 Hz atau 60 Hz.
50 Hz dan 60 Hz
Peta pemakaian jenis frekuensi di dunia (www.cites.illinois.edu)
Perdebatan lebih bagus mana 50 Hz atau 60
Hz akan selalu ada, dan tidak akan pernah selesai. Para pengguna 60 Hz
akan mengatakan bahwa sistem 50 Hz tidak seefisien 60 Hz pada penyaluran
daya, transformator 50 Hz membutuhkan belitan yang lebih besar,
generator 50 Hz berputar lebih lambat sehingga tidak seefektif generator
60 Hz. Di sisi lain, para pengguna 50 Hz akan mengatakan bahwa
rugi-rugi pada transformator 60 Hz akan lebih besar karena ada rugi-rugi
yang tergantung frekuensi operasi, frekuensi yang lebih tinggi akan
membatasi ukuran konduktor pada transmisi tegangan tinggi. Padahal,
apabila kita lihat kembali sekian banyak frekuensi yang pernah muncul
pada awal-awal perkembangan listrik, baik 50 Hz atau 60 Hz relatif sama
saja dibandingkan dengan frekuensi rendah 25 Hz ataupun frekuensi tinggi
133 Hz yang pernah muncul dan beroperasi.
Akibat interkoneksi yang semakin meluas
serta faktor industrialisasi dan kolonialisasi juga, sekarang ini
frekuensi 50 Hz digunakan oleh kebanyakan negara di dunia, sementara 60
Hz populer di negara-negara Amerika Utara. Jepang adalah kasus khusus
karena menjadi negara yang memiliki dua sistem frekuensi 50 Hz dan 60 Hz
sekaligus.
Jepang: Negara Dua Frekuensi
Jepang adalah salah satu negara yang unik
di dunia dari sudut pandang frekuensi sistem tenaga yang digunakan.
Jepang memiliki dua frekuensi operasi, 50 Hz dan 60 Hz, pada satu sistem
interkoneksi secara sekaligus. Kejadian ini boleh dibilang merupakan
“kecelakaan”, pada awal keberadaan listrik di Jepang sekitar tahun
1890an. Perkembangan listrik di Jepang timur dimulai dari Tokyo yang
mengimpor generator set dari AEG Jerman dengan frekuensi 50 Hz,
kota-kota lain di Jepang timur pun mengacu Tokyo dengan menggunakan
frekuensi 50 Hz. Sementara itu, untuk wilayah Jepang bagian barat,
dimulai dari Osaka yang mengimpor generator dari GE Amerika Serikat yang
menggunakan frekuensi 60 Hz. Perkembangan selanjutnya kota-kota di
Jepang bagian barat mengacu pada Osaka dengan menggunakan frekuensi 60
Hz.
Untuk menggabungkan dua frekuensi yang berbeda, Jepang harus menggunakan sistem HVDC back to back sehingga daya tetap bisa saling mengalir ke dua sistem frekuensi yang berbeda. Terdapat tiga gardu induk HVDC back to back
untuk menghubungkan kedua frekuensi tersebut, yaitu di Higashi-Shimizu,
Shin-Shinano, dan Sakuma. Total kapasitas ketiga gardu penghubung
tersebut adalah 1GW.
Pada kondisi normal, operasi interkoneksi
dengan dua frekuensi yang berbeda tidak menjadi masalah, apalagi dengan
didukung oleh saluran penghubung yang berkapasitas hingga 1 GW. Tetapi,
Jepang mengalami masalah akibat perbedaan frekuensi ini setelah gempa
dan tsunami besar di daerah Tohoku pada Maret 2011. Setelah gempa dan
tsunami, total daya listrik yang hilang di Jepang bagian timur mencapai
9.7 GW. Sementara saluran penghubung hanya mampu total 1 GW, akibatnya
daya yang dihasilkan oleh pembangkit di Jepang bagian barat tidak bisa
disalurkan untuk memenuhi defisit energi di daerah Jepang timur. Praktis
pada kondisi darurat seperti ini, sistem interkoneksi Jepang
seolah-olah terpisah menjadi dua bagian, 50 Hz dan 60 Hz.
Frekuensi di masa mendatang?
Perkembangan elektronika daya sudah
sangat maju sekarang ini, sehingga sampai pada kapasitas daya tertentu,
frekuensi bukan menjadi masalah lagi karena kita bisa mengubah sesuai
dengan nilai yang kita inginkan. Pada aplikasi-aplikasi khusus,
frekuensi yang digunakan bukan lagi frekuensi tradisional 50 Hz/60 Hz
tetapi 400 Hz. Frekuensi ini kita temui pada sistem kelistrikan pesawat
terbang, kapal laut, kapal selam, dsb.
Namun untuk aplikasi sistem tenaga skala
besar, penulis rasa masih akan tetap menggunakan frekuensi tradisional
50 Hz atau 60 Hz. Pertama karena kemampuan daya dari peralatan
elektronika daya belum bisa untuk aplikasi yang masif, kedua karena
infrastruktur kelistrikan yang sudah terbentuk saat ini, akan
membutuhkan modal yang sangat besar untuk mengubah dalam waktu singkat.
No comments:
Post a Comment